1. Pengertian dan Cakupan
Pengertian komunikasi bisnis : fungsi dan ruang lingkupnya
– Komunikasi bisnis sangatlah diperlukan bagi setiap pebisnis dalam
mencapai tujuan organisasinya. Tentu saja untuk mencapai tujuan tersebut
komunikasi yang dilakukan haruslah secara efektif antara pimpinan
maupun bawahannya. Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju,
menjadi seorang manajer maupun pemimpin perusahaan dituntut untuk mampu
berkomunikasi baik di dalam maupun di luar organisasi untuk
mempromosikan produk maupun jasanya kepada pelanggan. Oleh karena itu,
komunikasi dalam berbisnis sangatlah dibutuhkan. Untuk mengetahui lebih
lanjut mengenai hal tersebut, simaklah ulasan berikut ini.
Pengertian Komunikasi Bisnis
Sebelum beranjak lebih jauh pada arti
komunikasi bisnis, ada baiknya kita mengetahui arti dari dua kata
tersebut. Komunikasi secara etimologis berasal dari bahasa Latin, yakni
Communico, Communicatio, dan Comunicare yang artinya membuat sama.
Secara terminologis, kata komunikasi memiliki arti sebagai proses dalam
menyampaikan gagasan dari pihak satu ke pihak lainnya.
Dari arti kedua kata di atas, dapat
disimpulkan bahwa komunikasi bisnis merupakan proses pertukaran
pendapat, gagasan maupun informasi yang disajikan secara personal maupun
impersonal dengan perantara simbol-simbol atau sinyal dan memiliki
tujuan tertentu. Informasi maupun gagasan yang disampaikan tersebut
hendaknya bersifat informatif dan persuasif, agar pihak yang lain
sanggup menerima dan melakukan suatu kegiatan yang berkaitan dengan
informasi tersebut.
Fungsi Komunikasi Bisnis
Suatu hal tentu saja memiliki fungsi,
yang merupakan kegunaan dirumuskannya hal tersebut. begitu pula dengan
pokok bahasan kali ini. Manfaat komunikasi bisnis terdiri dari beberapa
hal, yakni fungsi informatif, fungsi kontrol, fungsi
persuasif/motivatif, dan fungsi emotif. Fungsi informatif, yakni fungsi
yang memberikan berbagai pilihan maupun mengubah suatu keadaan bisnis,
serta dalam membuat suatu keputusan.
Kemudian fungsi komunikasi bisnis
selanjutnya yaitu fungsi kontrol. Fungsi ini diharapkan dapat
mengendalikan dan mengawasi, yakni dengan cara menyediakan saluran
feedback pada setiap kegiatan tersebut, baik secara individual maupun
organisasional. Fungsi lainnya yakni fungsi persuasif/ motivatif. Dengan
adanya fungsi ini diharapkan dapat memberikan pengaruh positif pada
orang lain melalui sebuah treatment tertentu supaya orang lain dapat
menerima dan bertindak sesuai yang diharapkan.
Dan fungsi yang terakhir yaitu fungsi
emotif. Fungsi ini sebagai suatu alat atau cara dalam mengekspresikan
emosi yang ditujukan pada penerimaan inti gagasan/ide yang disampaikan.
Dengan adanya beberapa fungsi di atas, diharapkan fungsi tersebut dapat
berjalan secara optimal.
Ruang Lingkup Komunikasi Bisnis
Setelah kita mengurai mengenai
pengertian dan fungsi komunikasi bisnis di atas, selanjutnya kita bahas
mengenai ruang lingkupnya. Pada dasarnya ruang lingkup komunikasi bisnis
sangatlah luas dan lebih komplek, seperti komunikasi pada sejarah
berdirinya organisasi/perusahaan hingga pengelolaan dan pengembangannya.
Beberapa ruang lingkup komunikasi bisnis
yaitu pertama, komunikasi internal. Komunikasi ini berlangsung pada
cakupan organisasi/perusahaan yang terjadi di antara
organisasi/perusahaan tersebut. komunikasi internal dibagi menjadi tiga
jenis, yaitu komunikasi vertikal (atasan dan bawahan), komunikasi
horizontal (orang yang memiliki jabatan yang sejajar), dan komunikasi
diagonal (orang yang memiliki jabatan yang berbeda pada posisi yang
tidak sejajar vertikal).
Cakupan komunikasi bisnis kedua yaitu
komunikasi eksternal, yakni komunikasi yang terjadi antara
organisasi/perusahaan dan pihak luar organisasi/perusahaan seperti
masyarakat. Komunikasi ini dapat terjadi melalui beberapa hal, seperti
adanya pameran, promosi, publikasi, konferensi pers, radio, televisi,
serta adanya kegiatan bakti sosial maupun kegiatan pengabdian pada
masyarakat.
2. Bisnis Dalam Pandangan Komunikasi
Bisnis Dalam Pandangan Komunikasi
Memasuki millenium baru, dunia usaha banyak
menghadapi masalah kompleks. Bukan saja karena cakupan bisnisnya yang semakin
beragam, melainkan juga karena skala bisnis sudah menjadi problem yang
sangat luas. Sejumlah ahli mengatakan bisnis sudah menjadi masalah global.
Mengapa sampai demikian?
Pertama, karena semakin pesatnya kemajuan di bidang sain dan
teknologi, sehingga merangsang terciptanya sistem dan proses produksi yang
efisien. Produksi barang dan jasa sudah melampaui batas kebutuhan pasar dalam
negeri, sehingga perlu di ekspor.
Kedua, karena teknologi telah mempercepat pembangunan sarana
dan prasarana transportasi, sehingga mobilitas sosial menjadi semakin cepat dan
tinggi.
Ketiga, bersamaan dengan itu, kemajuan di bidang
transformasi informasi [komunikasi] juga berlangsung sangat pesat, sehingga
informasi tentang keadaan tertentu dapat disampaikan tanpa tergantung pada
jarak geografis. Bukan itu saja, kemajuan di bidang komunikasi [media massa]
telah mempengaruhi pola-pola bisnis antarmanusia.
Fenomena inilah yang menyadarkan banyak orang betapa
pentingnya memahami gejala komunikasi dalam rangka memahami gejala bisnis.
Jika kita melihat bisnis dan komunikasi sebagai sama-sama
suatu proses sosial, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa komunikasi adalah
bisnis dan, sebaliknya, bisnis adalah komunikasi. Artinya, pada tingkatan
gejala [fenomena], antara komunikasi dan bisnis merupakan gejala yang
terintegrasi. Tidak bisa dipisah-pisahkan. Bisnis dan komunikasi sama-sama memulai kegiatannya dengan
melakukan proses produksi. Lebih jelasnya bisa dijelaskan sbb :
- · Dalam komunikasi, yang diproduksi dinamakan informasi; sedangkan dalam bisnis, yang diproduksi adalah barang dan jasa. Dalam konteks tertentu, informasi juga termasuk barang dan jasa. Misalnya : informasi lewat surat kabar, majalah, televisi, dll.
- · Kemudian, bisnis dan komunikasi menyampaikan produk tsb kepada pihak lain. Dalam komunikasi, pihak lain bisa disebut communicator, audience,destination, dst. Sementara dalam kegiatan bisnis pihak lain sering disebut konsumen, klien, buyer, dst.
- · Komunikasi dan bisnis sama-sama menimbulkan reaksi tertentu dan mempunyai hambatan-hambatan yang spesifik.
3. Pemasaran dan Komunikasi
Definisi Pemasaran dan Komunikasi Pemasaran Menurut Para Ahli
Pemasaran adalah suatu kegiatan yang perlu dilakukan oleh perusahaan baik itu perusahaan barang atau jasa dalam upaya untuk mempertahankan kelangsunan hidup usahanya. Berikut adalah beberapa definisi pemasaran dari beberapa ahli :
Menurut Philip Kotler (2002 : 9) :
“Marketing is a social and managerial process and by which individuals and group obtain what they need and want through creating, offering, and freely exchanging product and service of value with other”. Pemasaran adalah suatu proses sosial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
Sedangkan meurut Stanton (2001) definisi pemasaran adalah :
Suatu sistem keseluruhan kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan batang atau jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial.
Menurut Keegan (1997 : 3), dalam buku “Intisari Manajemen Pemasaran” yang diungkapkan oleh H. Djaslim Saladin dan Yevismarti Oesman yaitu :
“Pemasaran adalah suatu proses sosial yang berfokus pada sumber daya manusia dan bertujuan untuk memanfaatkan peluang-peluang pasar secara global”. (http://noorikhfan.web.id/)
Menurut Basu Swastha (2001 : 8), yaitu :
“Pemasaran adalah sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditunjukkan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang, jasa, ide kepada pasar sasaran agar dapat mencapai tujuan organisasi”.
Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan
bahwa pemasaran adalah rangkaian proses kegiatan yang dilakukan oleh individu
maupun suatu kelompok atau organnisasi, yaitu perencanaan pemikiran, penetapan
harga, promosi serta penyaluran gagasan, barang, untuk memenuhi kebutuhan,
keinginan dan permintaan konsumen.
Bauran komunikasi pemasaran, menurut Kotller (2005:249) merupakan penggabungan dari lima model komunikasi dalam pemasaran, yaitu :
- Iklan : Setiap bentuk presentasi yang bukan dilakukan orang dan promosi gagasan, barang, atau jasa oleh sponsor yang telah ditentukan
- Promosi Penjualan : Berbagai jenis insentif jangka pendek untuk mendorong orang mencoba atau membeli produk atau jasa.
- Hubungan masyarakat dan pemberitaan : Berbagai program yang dirancang untuk mempromosikan atau melindungi citra perusahaan atau masing-masing produknya
- Penjualan pribadi : Interaksi tatap muka dengan satu atau beberapa calon pembeli dengan maksud untuk melakukan presentasi, menjawab pertanyaan, dan memperoleh pemesanan.
- Pemasaran langsung dan interaktif : Penggunaan surat, telepon , faksimili,e-mail, atau internet untuk berkomunikasi langsung atau meminta tanggapan atau berdialog dengan pelanggan tertentu dan calon pelanggan.
Tujuan komunikasi secara umum adalah untuk mencapai sejumlah perubahan seperti, perubahan pengetahuan (knowledge change ), perubahan sikap ( attitude change ), perubahan perilaku (behaviour change ) dan perubahan masyarakat ( social change ) (Soemanagara, 2006 : 3).
Menurut Nickles (Dharmmesta, 1990 : 56), komunikasi pemasaran merupakan kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh pembeli dan penjual yang sangat membantu dalam pengambilan keputusan di bidang pemasaran, serta mengarahkan pertukaran agar lebih memuaskan dengan cara menyadarkan semua pihak untuk berbuat lebih baik. Definisi ini menyatakan bahwa komunikasi pemasaran merupakan pertukaran informasi dua arah antara pihak-pihak atau lembaga-lembaga yang terlibat dalam pemasaran. Pihak-pihak yang terlibat akan mendengarkan, beraksi dan berbicara sehingga tercipta hubungan pertukaran yang memuaskan.
4. Difusi dan Inovasi
Difusi Inovasi
Salah satu aplikasi komunikasi
massa terpenting adalah berkaitan dengan proses adopsi inovasi. Hal ini
relevan untuk masyarakat yang sedang berkembang maupun masyarakat maju, Karena
terdapat kebutuhan terus menerus dalam perubahan social dan teknologi untuk
mengganti cara-cara lama dengan teknik-teknik baru. Teori ini berkaitan
dengan komunikasi massa karen adalam berbagai situasi di mana efektivitas
potensi perubahan yang berawal dari penelitian ilmiah dan kebijakan publik,
harus diterapkan oleh masyarakat yang pada dasarnya berada di luar jangkauan
langsung pusat-pusat inovasi atau kebijakan publik. Teori ini pada
prinsipnya adalah komunikasi dua tahap. Jadi di dalamnya juga dikenal pula
adanya pemuka pendapat atau yang disebut juga dengan instilah agen perubahan
(agent of change). Oleh karena itu teori ini sangat menekankan pada
sumber-sumber non media (sumber personal, misalnya tetangga, teman, ahli dsb)
mengenai gagasan-gagasan baru yang dikampanyekan untuk mengubah perilaku
melalui penyebaran informasi dan upaya mempengaruhi motivai dan sikap.
Asumsi :
a. Pengetahuan.
Kesadaran individu akan adanya inovasi dan adanya pemahaman tertentu tentang
bagaimana inovasi tersebut berfungsi.
b. Persuasi.
Individu memiliki/membentuk sikap yang menyetujui atau tidak menyetujui inovasi
tersebut.
c. Keputusan.
Individu terlibat dalam aktivitas yan membawa pada suatu pilihan atau
mengadopsi atau menolak inovasi.
d. Konformasi.
Individu akan mencari pendapat yang menguatkan keputusan yang telah diambilnya,
namun dia dapat berubah dari keputusan sebelumnya jika pesan-pesan mengenai
inovasi yang diterimanya berlawanan satu dengan yang lainnya.
Esensi Teori :
Di dalam buku Diffusion of
Innovation, Everett M. Rogers mendefinisikan difusi inovasi adalah
”proses sosial yang
mengomunikasikan informasi tentang ide baru yang dipandang secara subjektif.
Makna inovasi dengan demikian perlahan-lahan dikembangkan melalui sebuah proses
konstruksi sosial.”
”inovasi yang dipandang oleh
penerima sebagai inovasi yang mempunyai manfaat relatif, kesesuaian, kemampuan
untuk dicoba, kemampuan dapat dilihat yang jauh lebih besar, dan tingkat
kerumitan yang lebih rendahakan lebih cepat diadopsi daripada inovasi-inovasi
lainnya.”
Difusi merupakan suatu jenis
khusus komunikasi yang berkaitan dengan penyebaran pesan-pesan sebagai ide
baru. Komunikasi didefinisikan sebagai proses dimana para pelakunya menciptakan
informasi dan saling bertukar informasi untuk mencapai pengertian bersama. Di
dalam pesan itu terdapat ketermasaan (newness) yang memberikan ciri
khusus kepada difusi yang menyangkut ketakpastian (uncertainty).
Asumsi utama yang dapat
disimpulkan dari teori ini adalah:
1. Difusi
inovasi adalah proses sosial yang mengomunikasikan informasi tentang ide baru
yang dipandang secara subjektif. Makna inovasi dengan demikian perlahan-lahan
dikembangkan melalui sebuah proses konstruksi sosial
2. Inovasi
yang dipandang oleh penerima sebagai inovasi yang mempunyai manfaat relatif,
kesesuaian, kemampuan untuk dicoba, kemampuan dapat dilihat yang jauh lebih
besar, dan tingkat kerumitan yang lebih rendah akan lebih cepat diadopsi
daripada inovasi-inovasi lainnya
3. Ada
sedikitnya 5 tahapan dalam difusi inovasi yakni, tahap pengetahuan, persuasi,
keputusan, implementasi, dan konfirmasi
4. Ada 5
tipe masyarakat dalam mengadopsi inovasi yakni inovator, early
adopter,early majority, late majority, dan laggard.
Unsur-unsur
Difusi Inovasi :
Dari definisi yang diberikan oleh
Everett M. Rogers tersebut, ada empat unsur utama yang terjadi dalam proses
difusi inovasi sebagai berikut:
1. Inovasi
Inovasi merupakan sebuah
ide, praktek,
atau objek yang dianggap sebagai suatu yang baru oleh seorang individu atau
satu unit adopsi lain. Semua inovasi memiliki komponen ide tetapi tak banyak
yang memiliki wujud fisik, ideologi misalnya. Inovasi yang tidak memliliki
wujud fisik diadopsi berupakeputusan simbolis. Sedangkan yang memiliki
wujud fisik pengadopsiannya diikuti dengan keputusan tindakan. Rogers (1983) mengemukakan lima
karakteristik inovasi yang dapat memengaruhi keputusan terhadap pengadopsian
suatu inovasi meliputi:
a. Keunggulan
relatif (relative advantage)
Keunggulan relatif adalah derajat
dimana suatu inovasi dianggap lebih baik atau unggul dari yang pernah ada
sebelumnya. Hal ini dapat diukur dari beberapa segi, seperti segi eknomi, prestise
sosial, kenyamanan, kepuasan dan lain-lain. Semakin besar keunggulan relatif
dirasakan oleh pengadopsi, semakin cepat inovasi tersebut dapat diadopsi.
Contoh
: Dalam pembelian handphone, penggunahandphone akan mencari handphone yang
lebih baik dari yang ia gunakan sebelumnya. Misalnya dari penggunaan Nokia N97
berganti ke Blackberry
b. Kompatibilitas (compatibility)
Kompatibilitas adalah derajat
dimana inovasi tersebut dianggap konristen dengan nilai-nilai yang berlaku,
pengalaman masa lalu dan kebutuhan pengadopsi. Sebagai contoh, jika suatu
inovasi atau ide baru tertentu tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku,
maka inovasi itu tidak dapat diadopsi dengan mudah sebagaimana halnya dengan
inovasi yang sesuai (compatible).
Contoh
: Dalam suku Badui dalam terdapat aturan untuk tidak menggunakan teknologi dari
luar, sehingga bentuk inovasi seperti alat-elektronik tidak mereka adopsi
karena tidak sesuai dengan norma sosial yang mereka miliki
c. Kerumitan
(complexity)
Kerumitan adalah derajat dimana
inovasi dianggap sebagai suatu yang sulit untuk dipahami dan digunakan. Beberapa inovasi tertentu ada
yang dengan mudah dapat dimengerti dan digunakan oleh pengadopsi dan ada pula
yang sebaliknya. Semakin mudah dipahami dan dimengerti oleh pengadopsi, maka
semakin cepat suatu inovasi dapat diadopsi.
Contoh
: Masyarakat pengguna PC atau notebook terbiasa dengan
penggunaan Windows yang lebih mudah dibandingkan Linux, walaupun Linux memiliki
kelebihan dibandingkan Windows tetapi karena penggunaannya lebih rumit masih
sedikit orang yang menggunakan Linux
d. Kemampuan
diujicobakan (trialability)
Kemampuan untuk diujicobakan
adalah derajat dimana suatu inovasi dapat diuji-coba batas tertentu. Suatu
inovasi yang dapat di uji-cobakan dalam seting sesungguhnya umumnya akan lebih
cepat diadopsi. Jadi, agar dapat dengan cepat diadopsi, suatu inovasi sebaiknya harus mampu
menunjukan (mendemonstrasikan) keunggulannya.
Contoh
: Produk Molto Ultra Sekali Bilas cepat diterima masyarakat karena secara
langsung dapat dibandingkan dengan produk-produk sejenis lainnya.
e. Kemampuan diamati (observability)
Kemampuan untuk diamati adalah
derajat dimana hasil suatu inovasi dapat terlihat oleh orang lain. Semakin
mudah seseorang melihat hasil dari suatu inovasi, semakin besar kemungkinan
orang atau sekelompok orang tersebut mengadopsi. Jadi dapat disimpulkan bahwa
semakin besar keunggulan relatif; kesesuaian (compatibility); kemampuan untuk
diuji cobakan dan kemampuan untuk diamati serta semakin kecil kerumitannya,
maka semakin cepat kemungkinan inovasi tersebut dapat diadopsi.
2. Saluran
komunikasi
Tujuan komunikasi adalah
tercapainya suatu pemahaman bersama atau yang biasa disebut mutual
understanding antara dua atau lebih partisipan komunikasi terhadap
suatu pesan (dalam hal ini adalah ide baru) melalui saluran komunikasi
tertentu. Dengan demikian diadopsinya suatu ide baru (inovasi) dipengaruhi oleh
partisipan komunikasi dan saluran komunikasi. Saluran komunikasi dapatr
dikatakan memegang peranan penting dalam proses penyebaran inovasi, karena
melalui itulah inovasi dapat tersebar kepada anggota sistem sosial.
Dalam tahap-tahap tertentu dari
proses pengambilan keputusan inovasi, suatu jenis saluran komunikasi tertentu
juga memainkan peranan lebih penting dibandingkan dengan jenis saluran
komunikasi lain. Ada dua jenis kategori saluran komunikasi yang digunakan dalam
proses difusi inovasi, yakni saluran media massa dan saluran antarpribadi atau
saluran lokal dan kosmopolit. Saluran lokal adalah saluran yang berasal dari
sistem sosial yang sedang diselidiki. Saluran kosmopolit adalah saluran
komunikasi yang berada di luar sistem sosial yang sedang diselidiki. Media
massa dapat berupa radio, televisi, surat kabar, dan lain-lain. Kelebihan media
massa adalah dapat menjangkau audiens yang banyak dengan cepat dari satu
sumber. Sedangkan saluran antarpribadi dalam proses difusi inovasi ini
melibatkan upaya pertukaran informasi tatap muka antara dua atau lebih individu
yang biasanya memiliki kekerabatan dekat.
Hasil penelitian berkaitan dengan
saluran komunikasi menunjukan beberapa prinsip sebagai berikut:
a. Saluran
komunikasi masa relatif lebih penting pada tahap pengetahuan dan saluran antar
pribadi (interpersonal) relatif lebih penting pada tahap persuasi. Hal
ini disebabkan saluran komunikasi massa dapat membentuk awareness secara
serempak dalam waktu yang dikatakan cukup singkat dibandingkan dengen efek
komunikasi antarpribadi.
b. Saluran
kosmopolit lebih penting pada tahap pengetahuan dan saluran lokal relatif lebih
penting pada tahap persuasi.
<"font-size:
small;">c. Saluran media masa relatif lebih
penting dibandingkan dengan saluran antar pribadi bagi adopter awal (early
adopter) dibandingkan dengan adopter akhir (late adopter). Sesuai
dengan karakteristiknya masing-masing, golongan adopter awal menyukai ide-ide
baru tanpa perlu persuasi yang berlebihan sehingga media massa saja sudah cukup
membuat mereka mau mengadopsi sebuah inovasi berbeda dengan orang-orang dari
golongan adopter akhir, karakteristik mereka yang kurang menyukai risiko
menyebabkan komunikasi antarpribadi yang paling bekerja dengan baik. Mereka
cenderung melihat atau berkaca pada orang-orang disekitar mereka yang sudah
menggunakan inovasi tersebut dan apabila berhasil mereka baru mau mengikutinya.
d. Saluran kosmopolit relatif lebih
penting dibandingkan denan saluran lokal bagi bagi adopter awal (early
adopter) dibandingkan dengan adopter akhir (late adopter).
Metode komunikasi massa seperti
penggunaan iklan memang dapat menyebarkan informasi tentang inovasi baru dengan
cepat tetapi hal tersebut tidak lantas dapat begitu saja membuat inovasi baru
tersebut diadopsi oleh khalayak. Hal itu dikarenakan diadopsi tidaknya inovasi
baru terkait dengan masalah resiko dan ketidakpastian. Disinilah letak pentingnya
komunikasi antarpribadi. Orang akan lebih percaya kepada orang yang sudah
dikenalnya dan dipercayai lebih awal atau orang yang mungkin sudah berhasil
mengadopsi inovasi baru itu sendiri, dan juga orang yang memiliki kredibilitas
untuk memberi saran mengenai inovasi tersebut. Hal tersebut digambarkan oleh
ilustrasi kurva dibawah ini yang menggambarkan bahwa komunikasi interpersonal
menjadi begitu sangat berpengaruh dari waktu ke waktu dibandingkan dengan
komunikasi massa.
Dari hasil penelitian, banyak
disebutkan bahwa saluran komunikasi media massa akan optimal digunakan
pada tahap pengetahuan dan saluran interpersonal akan lebih optimal digunakan
pada tahap persuasi. Namun pada kenyataannya, di negara yang belum maju kekuatan
komunikasi interpersonal masih dinilai lebih penting dalam tahap pengetahuan.
Hal ini disebabkan karena kurangnya media massa yang dapat dijangkau masyarakat
terutama di pedesaan, tingginya tingkat buta huruf penduduk, dan mungkin pula
disebabkan ketidakrelevanan antara isi media dengan kebutuhan masyarakat,
misalnya terlalu banyak hiburan atau hal-hal yang sebenarnya tidak penting
untuk diberitakan. Karena hal-hal tersebut, saluran komunikasi interpersonal
terutama yang bersifat kosmopolit dinilai lebih baik dibanding saluran media
massa.
Untuk mendapatkan hasil
penyebaran inovasi yang optimal, yakni memperbesar tingkat adopsi suatu inovasi
dapat dilakukan dengan pengaplikasian saluran komunikasi yang tepat pada
situasi yang tepat. Pertama, pada tahap pengetahuan hendaknya kita menggunakan
media massa untuk menyebarluaskan informasi tentang adanya inovasi tersebut.
Selanjutnya digunakan saluran komunikasi interpersonal yang bersifat persuasif
dan personal pada tahap persuasi.
3. Kurun
waktu tertentu
Waktu merupakan salah satu unsur
penting dalam proses difusi. Dimensi waktu, dalam proses difusi, berpengaruh
dalam tiga hal, yakni:
a. Proses
keputusan inovasi, yaitu proses mental yang terjadi dimana individu mulai
mengalami tahapan menerima informasi pertama yang membentuk sikap
seseorang terhadap inovasi sampai kepada keputusan apakah individu tersebut
menerima atau menolak inovasi, hingga tahapan implementasi dan konfirmasi
berkenaan dengan inovasi tersebut.
Ada beberapa tahap dalam proses
keputusan inovasi ini, yakni:
· Tahap
pengetahuan pertama terhadap inovasi
· Tahap
pembentukan sikap kepada inovasi
· Tahap
pengambilan keputusan menerima atau menolak inovasi
· Tahap
pelaksanaan inovasi
· Tahap
konfirmasi dari keputusan
b. Waktu
memengaruhi difusi dalam keinovatifan individu atau unit adopsi. Keinovatifan
adalah tingkatan dimana individu dikategorikan secara relative dalam mengadopsi
sebuah ide baru dibanding anggota suatu sistem sosial lainnya. Kategori
tersebut antara lain adalah innovator, early adopter, early
majority, late majority, dan laggard. Klasifikasi
ini dikarenakan dalam sebuah sistem, individu tidak akan secara serempak dalam
suatu waktu mengadopsi sebuah inovasi melainkan perlahan-lahan secara berurut.
Keinovatifan inilah yang pada akhirnya menjadi indikasi yang menunjukkan
perubahan tingkah laku individu
c. Kecepatan
rata-rata adopsi ide baru dalam sebuah sistem sangat dipengaruhi oleh dimensi
waktu. Kecepatan adopsi adalah kecepatan relative yang berkenaan dengan
pengadopsian suatu inovasi oleh anggota suatu sistem mengadopsi suatu inovasi
dalam periode waktu tertentu. Kecepatan ini selalu diukur dengan jumlah anggota
suatu sistem yang mengadopsi inovasi dalam periode waktu tertentu.
4. Sistem
Sosial
Sangat penting untuk diingat
bahwa proses difusi terjadi dalam suatu sistem sosial. Sistem sosial adalah
satu set unit yang saling berhubungan yang tergabung dalam suatu upaya
pemecahan masalah bersama untuk mencapai suatu tujuan. Anggota dari suatu
sistem sosial dapat berupa individu, kelompok informal, organisasi dan atau sub
sistem. Proses difusi dalam kaitannya dengan sistem sosial ini dipengaruhi oleh
struktur sosial, norma sosial, peran pemimpin dan agen perubahan, tipe
keputusan inovasi dan konsekuensi inovasi.
Difusi inovasi terjadi dalam
suatu sistem sosial. Dalam suatu sistem sosial terdapat struktur sosial,
individu atau kelompok individu, dan norma-norma tertentu. Berkaitan dengan hal
ini, Rogers (1983) menyebutkan adanya empat faktor yang mempengaruhi proses
keputusan inovasi. Keempat faktor tersebut adalah:
1) Struktur
sosial (social structure)
Struktur sosial adalah susunan
suatu unit sistem yang memiliki pola tertentu. Adanya sebuah struktur dalam
suatu sistem sosial memberikan suatu keteraturan dan stabilitas perilaku setiap
individu dalam suatu sistem sosial tertentu. Struktur sosial juga menunjukan
hubungan antar anggota dari sistem sosial. Hal ini dapat dicontohkan seperti
terlihat pada struktur oranisasi suatu perusahaan atau struktur sosial
masyarakat suku tertentu. Struktur sosial dapat memfasilitasi atau menghambat
difusi inovasi dalam suatu sistem. Katz (1961) seperti dikutip oleh Rogers
menyatakan bahwa sangatlah bodoh mendifusikan suatu inovasi tanpa mengetahui
struktur sosial dari adopter potensialnya, sama halnya dengan
meneliti sirkulasi darah tanpa mempunyai pengetahuan yang cukup tentang
struktur pembuluh nadi dan arteri. Penelitian yang dilakukan oleh Rogers dan
Kincaid (1981) di Korea menunjukan bahwa adopsi suatu inovasi dipengaruhi oleh
karakteristik individu itu sendiri dan juga sistem sosial dimana individu
tersebut berada.
2) Norma
sistem (system norms)
Norma adalah suatu pola perilaku
yang dapat diterima oleh semua anggota sistem sosial yang berfungsi sebagai
panduan atau standar bagi semua anggota sistem sosial. Sistem norma juga dapat
menjadi faktor penghambat untuk menerima suatu ide baru. Hal ini sangat
berhubungan dengan derajat kesesuaian (compatibility) inovasi denan nilai atau
kepercayaan masyarakat dalam suatu sistem sosial. Jadi, derajat ketidak
sesuaian suatu inovasi dengan kepercayaan atau nilai-nilai yang dianut oleh
individu (sekelompok masyarakat) dalam suatu sistem social berpengaruh terhadap
penerimaan suatu inovasi tersebut.
3) Opinion
Leaders
Opinion leaders dapat dikatakan sebagai
orang-orang berpengaruh, yakni orang-orang tertentu yang mampu memengaruhi
sikap orang lain secara informal dalam suatu sistem sosial. Dalam kenyataannya,
orang berpengaruh ini dapat menjadi pendukung inovasi atau sebaliknya, menjadi
penentang. Ia (mereka) berperan sebagai model dimana perilakunya (baik
mendukung atau menentang) diikuti oleh para pengikutnya. Jadi, jelas disini
bahwa orang berpengaruh memainkan peran dalam proses keputusan inovasi.
4) Change
Agent
Change agent adalah suatua bagian dari sistem
sosial yang berpengaruh terhadap sistem sosialnya. Mereka adalah orang-orang
yang mampu memengaruhi sikap orang lain untuk menerima sebuah inovasi. Tetapichange
agent bersifat resmi atau formal, ia mendapat tugas dari
kliennya untuk memengaruhi masyarakat yang berada dalam sistem sosialnya. Change agent
atau dalam bahasia Indonesia yang biasa disebut agen perubah, biasanya
merupakan orang-orang profesional yang telah mendapatkan pendidikan atau
pelatihan tertentu untuk dapat memengaruhi sistem sosialnya. Di dalam buku
”Memasyarakatkan Ide-ide Baru” yang ditulis oleh Rogers dan Shoemaker, fungsi
utama dari change agent adalah menjadi mata rantai yang
menghubungkan dua sistem sosial atau lebih. Dengan demikian, kemampuan dan
keterampilan change agent berperan besar terhadap diterima
atau ditolaknya inovasi tertentu. Sebagai contoh, lemahnya pengetahuan tentang
karakteristik struktur sosial, norma dan orang kunci dalam suatu sistem sosial
(misal: suatu institusi pendidikan), memungkinkan ditolaknya suatu inovasi
walaupun secara ilmiah inovasi tersebut terbukti lebih unggul dibandingkan
dengan apa yang sedang berjalan saat itu.
Ralph Linton (1963) dalam buku
”Memasyarakatkan Ide-ide Baru” melihat bahwa setiap inovasi mempunyai tiga
unsur pokok yang harus diketahui oleh change agent, yakni:
· Bentuk
yang dapat diamati langsung dalam penampilan fisik suatu inovasi
· Fungsi
inovasi tersebut bagi cara hidup anggota sistem
· Makna,
yakni perspektif subyektif dan seringkali tak disadari tentang inovasi tersebut
oleh anggota sistem sosial. Karena sifatnya subyektif, unsur makna ini lebih
sulit didifusikan daripada bentuk maupun fungsinya. Terkadang kultur penerima
cenderung menggabungkan makna inovasi itu dengan makna subyektif, sehingga
makna aslinya hilang.
5) Heterofili
dan Homofili
Difusi diidentifikasi sebagai
jenis komunikasi khusus yang berhubungan dengan penyebaran inovasi. Pada teori
Two-Step Flow, opinion leader dan pengikutnya memiliki banyak
kesamaan. Hal tersebut yang dipandang dalam riset difusi sebagai
homofili. Yakni, tingkat di mana pasangan individu yang berinteraksi memiliki
banyak kemiripan sosial, contohnya keyakinan, pendidikan, nilai-nilai, status
sosial dan lain sebagainya. Lain halnya dengan heterofili, heterofili adalah
tingkat di mana pasangan individu yang berinteraksi memiliki banyak perbedaan.
Persamaan dan perbedaan ini akan berpengaruh terhadap proses difusi yang
terjadi. Semakin besar derajat kesamaannya maka semakin efektif komunikasi yang
terjadi untuk mendifusikan inovasi dan sebaliknya. Makin tinggi derajat
perbedaannya semakin b`nyak kemungkinan masalah yag terjadi dan menyebabkan
suatu komunikasi tidak efektif. Oleh karenanya, dalam proses difusi inovasi,
penting sekali untuk memahami betul karakteristik adopter potensialnya untuk
memperkecil “heterophily”.
Proses
Difusi Inovasi
1. Tahap
Pengetahuan (Knowledge)
Ada beberapa sumber yang
menyebutkan tahap pengetahuan sebagai tahap “Awareness”. Tahap ini merupakan tahap
penyebaran informasi tentang inovasi baru, dan saluran yang paling efektif untuk
digunakan adalah saluran media massa. Dalam tahap ini kesadaran individu akan mencari
atau membentuk pengertian inovasi dan tentang bagaimana inovasi tersebut
berfungsi. Rogers mengatakan ada tiga macam pengetahuan yang dicari masyarakat
dalam tahapan ini, yakni:
· Kesadaran
bahwa inovasi itu ada
· Pengetahuan
akan penggunaan inovasi tersebut
· Pengetahuan
yang mendasari bagaimana fungsi inovasi tersebut bekerja
2. Tahap Persuasi (Persuasion)
Dalam tahapan ini individu membentuk
sikap atau memiliki sifat yang menyetujui atau tidak menyetujui inovasi
tersebut. Dalam tahap persuasi ini, individu akan mencari tahu lebih dalam
informasi tentang inovasi baru tersebut dan keuntungan menggunakan informasi
tersebut. Yang membuat tahapan ini berbeda dengan tahapa pengetahuan adalah
pada tahap pengetahuan yang berlangsung adalah proses memengaruhi kognitif,
sedangkan pada tahap persuasi, aktifitas mental yang terjadi alah memengaruhi
afektif. Pada tahapan ini seorang calon adopter akan lebih
terlibat secara psikologis dengan inovasi. Kepribadian dan norma-norma sosial
yang dimiliki calon adopter ini akan menentukan bagaimana ia
mencari informasi, bentuk pesan yang bagaimana yang akan ia terima dan yang
tidak, dan bagaimana cara ia menafsirkan makna pesan yang ia terima berkenaan
dengan informasi tersebut. Sehingga pada tahapan ini seorang calon adopterakan
membentuk persepsi umumnya tentang inovasi tersebut. Beberapa ciri-ciri inovasi
yang biasanya dicari pada tahapan ini adalah karekateristik inovasi yakni relative
advantage, compatibility, complexity, trialability,
danobservability.
3. Tahap Pengambilan Keputusan (Decision)
Di tahapan ini individu terlibat
dalam aktivitas yang membawa pada suatu pilihan untuk mengadopsi inovasi tersebut
atau tidak sama sekali. Adopsi adalah keputusan untuk menggunakan sepenuhnya
ide baru sebagai cara tindak yang paling baik. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses keputusan
inovasi, yakni:
· Praktik
sebelumnya
· Perasaan
akan kebutuhan
· Keinovatifan
· Norma
dalam sistem sosial
Proses keputusan inovasi memiliki
beberapa tipe yakni:
a) Otoritas
adalah keputusan yang dipaksakan kepada seseorang oleh individu yang berada
dalam posisi atasan
b) Individual
adalah keputusan dimana individu yang bersangkutan mengambil peranan dalam
pembuatannya. Keputusan individual terbagi menjadi dua macam, yakni:
a. Keputusan
opsional adalah keputusan yang dibuat oleh seseorang, terlepas dari keputusan
yang dibuat oleh anggota sistem.
b. Keputusan
kolektif adalah keputusan dibuat oleh individu melalui konsesnsus dari sebuah
sistem sosial
c) Kontingen
adalah keputusan untuk menerima atau menolak inovasi setelah ada keputusan yang
mendahuluinya.
Konsekuensi adalah perubahan yang
terjadi pada individu atau suatu sistem sosial sebagai akibat dari adopsi atau
penolakan terhadap inovasi . Ada tiga macam konsekuensi setelah diambilnya
sebuah keputusan, yakni:
· Konsekuensi
Dikehendaki VS Konsekuensi Tidak Dikehendaki
Konsekuensi dikehendaki dan tidak
dikehendaki bergantung kepada dampak-dampak inovasi dalam sistem sosial
berfungsi atau tidak berfungsi. Dalam kasus ini, sebuah inovasi bisa saja
dikatakan berfungsi dalam sebuah sistem sosial tetapi tidak menutup kemungkinan
bahwa sebenarnya inovasi tersebut tidak berfungsi bagi beberapa orang di dalm
sistem sosial tersebut Sebut saja revolusi industri di Inggris, akibat dari
revolusi tersebut sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemilik modal tetapi
tidak sesuai denganapa yang dikehendaki oleh tenaga kerja yang pada akhirnya
kehilangan pekerjaaan dan menjadi pengangguran.
· Konsekuensi
Langsung VS Koneskuensi Tidak Langsung
Konsekuensi yang diterima bisa
disebut konsekuensi langsung atau tidak langsung bergantung kepada apakah
perubahan-perubahan pada individu atau sistem sosial terjadi dalam respons
langsung terhadap inovasi atau sebagai hasil dari urutan kedua dari
konsekuensi. Terkadang efek atau hasil dari inovasi tidak berupa pengaruh
langsung pada pengadopsi.
· Konsekuensi
Yang Diantisipasi VS Konsekuensi Yang Tidak Diantisipasi
Tergantung kepada apakah
perubahan-perubahan diketahui atau tidak oleh para anggota sistem sosial
tersebut. Contohnya pada penggunaan internet sebagai media massa baru di
Indonesia khususnya dikalangan remaja. Umumnya, internet digunakan untuk
mendapatkan informasi yang terbaru dari segala penjuru dunia, inilah yang
disebut konsekuensi yang diantisipasi. Tetapi tanpa disadari penggunaan
internet bisa disalahgunakan, misalnya untuk mengakses hal-hal yang berbau
pornografi hal inilah yang disebut konsekuensi yang tidak diantisipasi. Remaja
menjadi mudah mendapatkan video atau gambar-gambar yang tidak pantas.
4. Tahap Pelaksanaan (Implementation)
Tahapan ini hanya akan ada jika
pada tahap sebelumnya, individu atau partisipan memilih untuk mengadopsi
inovasi baru tersebut. Dalam tahap ini, individu akan menggunakan inovasi tersebut.
Jika ditahapan sebelumnya proses yang terjadi lebih kepada mental
exercise yakni berpikir dan memutuskan, dalam tahap pelaksanaan
ini proses yang terjadi lebih ke arah perubahan tingkah laku sebagai
bentuk dari penggunaan ide baru tersebut.
5. Tahap Konfirmasi (Confirmation)
Tahap terakhir ini adalah tahapan
dimana individu akan mengevaluasi dan memutuskan untuk terus menggunakan
inovasi baru tersebut atau menyudahinya. Selain itu, individu akan mencari
penguatan atas keputusan yang telah ia ambil sebelumnya. Apabila, individu
tersebut menghentikan penggunaan inovasi tersebut hal tersebut dikarenakan oleh
hal yang disebutdisenchantment discontinuance danatau replacement discontinuance.
Disenchantment discontinuance disebabkan oleh
ketidakpuasan individu terhadap inovasi tersebut sedangkan replacement discontinuancedisebabkan
oleh adanya inovasi lain yang lebih baik5. Umpan Balik dan Bentuk - bentuknya
Umpan Balik dan Bentuknya
Umpan yang baik diperlukan syarat-syarat tertentu, antara lain :
1. JUJUR
Umpan balik yang tidak jujur bersumber pada kebiasaan untuk menyenangkan orang lain, keinginan member nasihat, memenangkan argument, mengambil muka, menjilat, dan menyakiti orang lain. Umpan balik seperti ini sangat merusak.
2. KHUSUS dan JELAS
Umpan balik bukan sesuatu yang umum ataupun kabur.
3. BEBAS
Umpan balik yang membuat orang bersangkutan tidak dapat berbuat apa-apa adalah umpan balik yang tidak berguna.
4. TIDAK MENILAI
Penilaian yang dimaksud adalah judgement bukan evaluasi.
5. DESKRIPTIF
Umpan balik hendaknya mengungkapkan juga yang baik disamping sesuatu yang perlu diperbaiki lagi. Kita sering lupa saat menyatakan yang buruk tanpa memberikan titik terangnya (hal baik).
6. HASIL ORIENTED
Dalam hal ini yang diutamakan bukan hasilnya, tapi orangnya.
7. WAKTU
Tidak ada patokan tentang waktu dalam umpan balik.
BENTUK-BENTUK UMPAN BALIK
1. External Feedback
Umpan balik yang diterima langsung oleh komunikator dari komunikan
2. Internal Feedback
Umpan balik yang datang dari pesan si komunikator itu sendiri
3. Direct Feedback atau Immediate Feedback
Umpan balik langsung dalam suatu komunikasi
4. Indirect Feedback
Dalam bentuk surat kepada redaksi surat kabar, penyair radio, dll. Hal ini umpan balik membutuhkan waktu
5. Inferential Feedback
Umpan balik yang diterima dalam komunikasi massa yang disimpulkan sendiri oleh komunikator meskipun secara tidak langsung akan tetapi cukup relevan dengan pesan yang disampaikan.
6. Zero Feedback
Umpan balik yang disampaikan oleh komunikan tidak dapat dipahami oleh komunikator
7. Neutral Feedback
Informasi yang diterima oleh komunikator tidak relevan dengan pesan yang disampaikan semula
8. Positive Feedback
Komunikasi yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan mendapat tanggapan positif
9. Negative Feedback
Komunikasi yang disampaikan oleh komunikator mendapat tentangan dari komunikan
sumber:
http://artikel-az.com/pengertian-komunikasi-bisnis/
http://47ariesta.blogspot.co.id/2015/03/bisnis-dalam-pandangan-komunikasi.html
http://argen26.blogspot.co.id/2013/04/definisi-pemasaran-dan-komunikasi.html
http://strategikomunikasi.blogspot.co.id/2011/12/difusi-inovasi.html
http://47ariesta.blogspot.co.id/2015/04/umpan-balik-dan-bentuknya.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar